Entri Populer

Senin, 03 Maret 2014

LAYANAN PENDUKUNG PEMBELAJARAN



MAKALAH
LAYANAN PENDUKUNG INSTRUKSIONAL


 






OLEH :
KELOMPOK V
DEWI UMIATI
FINA NOVTANIA
MADIA NOVAL
UCHI FAJRIANITA


JURUSAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2013


A.    PENDAHULUAN

Upaya pengembangan system layanan instruksional dewasa telah mengalami perkembangan, karena layanan instruksional dianggap penting dan merupakan sarana utama untuk meningkatkan efektivitas dan efesiensi kegiatan belajar mengajar. Menurut Ellison (1972), layanan pendukung pembelajaran memiliki fungsi antara lain:
1.      Memberikan fasilitas atau bantuan belajar.
2.      Menyediakan sumber belajar.
3.      Menyediakan bahan-bahan yang berguna untuk melaksanakan kurikulum dan pengalaman belajar.

Dalam pendidikan, kegiatan pembelajaran tidaklah selalu berjalan dengan baik sesuai dengan harapan kita, namun ada beberapa layanan yang dapat mempengaruhi keberhasilan dalam proses pendidikan tersebut. Untuk itu kita harus terlebih dahulu mengetahui apa-apa saja yang termasuk kedalam komponen pendidikan, seperti Layanan pendukung dalam pembelajaran maupun penghambat dalam pembelajaran. Oleh karena itu, di makalah ini, kedua faktor tersebut dijelaskan..

B.     PEMBAHASAN

1.      Bentuk Umum Layanan Pendukung Instruksional
a.       Dukungan Bahasa dan Akademis
b.      Pusat Sumber Informasi
c.       Penasihat khusus
d.      Program Penerimaan dan Program Orientasi
e.       Penitipan Anak, Kesehatan dan Konseling
f.       Akomodasi Siswa
g.      Layanan Ketenagakerjaan
h.      Ruang doa dan sembahyang
i.        Bank, tempat belanja dan gerai makanan
j.        Klub, Perkumpulan, Fasilitas Olah Raga dan Kebugaran

  1. Layanan Pendukung Instruksional sebagai Komponen Pendidikan
Komponen adalah bagian dari suatu system yang memiliki peran dalam keseluruhan berlangsungnya suatu proses untuk mencapai tujuan system. Komponen pendidikan berarti bagian-bagian dari system proses pendidikan yang menentukan berhasil dan tidak. Pertama, komponen  perangkat  keras  (hardware), yang  meliputi  ruangan  belajar,  peralatan praktik, laboratorium, perpustakaan; kedua, komponen perangkat lunak (software) yaitu meliputi kurikulum, program  pengajaran,  manajemen  sekolah,  system pembelajaran; ketiga, apa yang disebut dengan perangkat pikir (brainware) yaitu menyangkut keberadaan guru, kepala sekolah, anak didik dan orang-orang yang terkait dalam proses pendidikan itu sendiri dan merupakan bagian dari Layanan Pendukung Instruksional Pendidikan.
Dari tiga kelompok komponen di atas, maka yang menjadi penentu dari proses pendidikan dan pembelajaran adalah Layanan Pendukung Instruksional itu sendiri. Bahwa dapat diartikan untuk berlangsungnya proses pendidikan yang sukses dan berhasil diperlukan beberapa komponen-komponen pendukung.
Layanan pendukung dan penghambat dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut:

a.      Kurikulum
Sebuah kelas tidak boleh sekedar diartikan sebagai tempat siswa berkumpul untuk mempelajari sejumlah ilmu pengetahuan. Demikian juga sebuah sekolah bukanlah sekedar sebuah gedung tempat murid mencari dan mendapatkan ilmu pengetahuan. Sekolah dan kelas diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam mendidik anak-anak yang tidak hanya harus didewasakan dari segi intelektualitasnya saja, akan tetapi dalam seluruh aspek kepribadiannya. Untuk itu bagi setiap tingkat dan jenis sekolah diperlukan kurikulum yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks dalam perkembangannya. Kurikulum yang dipergunakan di sekolah sangat besar pengaruhnya terhadap aktifitas kelas dalam mewujudkan proses belajar mengajar yang berdaya guna bagi pembentukan pribadi siswa.
Sekolah yang kurikulumnya dirancang secara tradisional akan mengakibatkan aktifitas kelas akan berlangsung secara statis. Sedangkan sekolah yang diselenggarakan dengan kurikulum modern pada dasarnya akan mampu menyelenggarakan kelas yang bersifat dinamis.
          Kedua kurikulum di atas kurang serasi dengan kondisi masyarakat Indonesia yang memiliki pandangan hidup Pancasila. Di satu pihak kurikulum tradisional yang berpusat pada guru akan diwarnai dengan sikap otoriter yang mematikan inisiatif dan kreatifitas murid. Di pihak lain kurikulum modern yang menekankan kebebasan atas dasar demokrasi liberal sehingga tidak memungkinkan diselenggarakan secara efektif kegiatan belajar secara klasikal untuk pengembangan pribadi sebagai makhluk sosial dan makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
Oleh karena itu diperlukan usaha untuk mengintregasikan kedua kurikulum tersebut dalam kehidupan lembaga formal di Indonesia agar serasi dengan kebutuhan dan dinamika masyarakat. Kurikulum harus dirancangkan sebagai pengalaman edukatif yang menjadi tanggung jawab sekolah dalam membantu anak-anak mencapai tujuan pendidikannya, yang diselenggarakan secara berencana, sistematik, dan terarah serta terorganisir.

b.      Gedung dan Sarana Kelas
Perencanaan dalam membangun sebuah gedung untuk sebuah sekolah berkenaan dengan jumlah dan luas setiap ruangan, letak dan dekorasinya yang harus disesuaikan dengan kurikulum yang dipergunakan. Akan tetapi karena kurikulum selalu dapat berubah sedang ruangan atau gedung bersifat permanen, maka diperlukan kreatifitas dalam mengatur pendayagunaan ruang/gedung.
Sekolah yang mempergunakan kurikulum tradisional pengaturan ruangan bersifat sederhana karena kegiatan belajar mengajar diselenggarakan di kelas yang tetap untuk sejumlah murid yang sama tingkatannya. Sekolah yang mempergunakan kurikulum modern, ruangan kelas diatur menurut jenis kegiatan berdasarkan program-progam yang telah dikelompokkan secara integrated. Sedangkan sekolah yang mempergunakan kurikulum gabungan pada umumnya ruangan kelas masih diatur menurut keperluan kelompok murid sebagai suatu kesatuan menurut jenjang dan pengelompokan kelas secara permanen.

c.       Guru
Program kelas tidak akan berarti bilamana tidak diwujudkan menjadi kegiatan. Untuk itu peranan guru sangat menentukan karena kedudukannya sebagai pemimpin pendidikan diantara murid-murid dalam suatu kelas. Guru adalah seseorang yang ditugasi mengajar sepenuhnya tanpa campur tangan orang lain (Rusyan, 1991: 135).
Setiap guru harus memahami fungsinya karena sangat besar pengaruhnya terhadap cara bertindak dan berbuat dalam menunaikan pekerjaan sehari-hari di kelas dan di masyarakat. Guru yang memahami kedudukan dan fungsinya sebagai pendidik profesional, selalu terdorong untuk tumbuh dan berkembang sebagai perwujudan perasaan dan sikap tidak puas terhadap pendidikan. Persiapan yang harus diikuti, sejalan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (Nawawi, 1989: 121).

d.      Murid
Murid merupakan potensi kelas yang harus dimanfaatkan guru dalam mewujudkan proses belajar mengajar yang efektif. Murid adalah anak-anak yang sedang tumbuh dan berkembang, dan secara psikologis dalam rangka mencapai tujuan pendidikannya melalui lembaga pendidikan formal, khususnya berupa sekolah. Murid sebagai unsur kelas memiliki perasaan kebersamaan yang sangat penting artinya bagi terciptanya situasi kelas yang dinamis.
Setiap murid memiliki perasaan diterima (membership) terhadap kelasnya agar mampu ikut serta dalam kegiatan kelas. Perasaan diterima itu akan menentukan sikap bertanggung jawab terhadap kelas yang secara langsung berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangannya masing-masing.

e.       Dinamika Kelas
Kelas adalah kelompok sosial yang dinamis yang harus dipergunakan oleh setiap guru kelas untuk kepentingan murid dalam proses kependidikannya. Dinamika kelas pada dasarnya berarti kondisi kelas yang diliputi dorongan untuk aktif secara terarah yang dikembangkan melalui kreativitas dan inisiatif murid sebagai suatu kelompok. Untuk itu setiap wali atau guru kelas harus berusaha menyalurkan berbagai saran, pendapat, gagasan, keterampilan, potensi dan energi yang dimiliki murid menjadi kegiatan-kegiatan yang berguna.
Dengan demikian kelas tidak akan berlangsung secara statis, rutin dan membosankan. Kreativitas dan inisiatif yang baik perwujudannya tidak sekedar terbatas didalam kelas sendiri, tetapi mungkin pula dilaksanakan bersama kelas-kelas yang lain atau oleh seluruh kelas. Setiap kelas harus dilihat dari dua segi. Pertama, kelas sebagai satu unit atau satu kesatuan utuh yang dapat mewujudkan kegiatan berdasarkan program masing-masing. Kedua, kelas merupakan unit yang menjadi bagian dari sekolah sebagai suatu organisasi kerja atau sebagai subsistem dari satu total sistem. Kedua sudut pandang itu harus sejalan dalam arti semua kegiatan kelas yang dapat ditingkatkan menjadi kegiatan sekolah harus dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi semua murid.

·         Kendala yang dihadapi dalam proses pembelajaran
Selain faktor pendukung tentu juga ada faktor penghambatnya. Dalam pelaksanaan pembelajaran akan ditemui berbagai faktor penghambat. Hambatan tersebut bisa datang dari guru sendiri, dari peserta didik, lingkungan keluarga ataupun karena faktor fasilitas yang merupakan layanan pendukung dari proses pembelajaran itu sendiri diantaranya :

a.      Guru
Guru sebagai seorang pendidik, tentunya ia juga mempunyai banyak kekurangan. Kekurangan-kekurangan itu bisa menjadi penyebab terhambatnya kreativitas pada diri guru tersebut. Diantara hambatan itu ialah :
1)      Tipe kepemimpinan guru
Tipe kepemimpinan guru (dalam mengelola proses belajar mengajar) yang otoriter dan kurang demokratis akan menimbulkan sikap pasif peserta didik. Sikap peserta didik ini akan merupakan sumber masalah pengelolaan kelas. Siswa hanya duduk rapi mendengarkan, dan berusaha memahami kaidah-kaidah pelajaran yang diberikan guru tanpa diberikan kesempatan untuk berinisiatif dan mengembangkan kreatifitas dan daya nalarnya.

2)      Gaya guru yang monoton
Gaya guru yang monoton akan menimbulkan kebosanan bagi peserta didik, baik berupa ucapan ketika menerangkan pelajaran ataupun tindakan. Ucapan guru dapat mempengaruhi motivasi siswa . Misalnya setiap guru menggunakan metode ceramah dalam mengajarnya, suaranya terdengar datar, lemah, dan tidak diiringi dengan gerak motorik/mimik. Hal inilah yang dapat mengakibatkan kebosanan belajar.

3)      Kepribadian guru
Seorang guru yang berhasil, dituntut untuk bersifat hangat, adil, obyektif dan bersifat fleksibel sehingga terbina suasana emosional yang menyenangkan dalam proses belajar mengajar. Artinya guru menciptakan suasana akrab dengan anak didik dengan selalu menunjukkan antusias pada tugas serta pada kreativitas semua anak didik tanpa pandang bulu.

4)      Pengetahuan guru
Terbatasnya pengetahuan guru terutama masalah pengelolaan dan pendekatan pengelolaan, baik yang sifatnya teoritis maupun pengalaman praktis, sudah barang tentu akan mengahambat perwujudan pengelolaan kelas dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, pengetahuan guru tentang pengelolaan kelas sangat diperlukan.

5)      Pemahaman guru tentang peserta didik
Terbatasnya kesempatan guru untuk memahami tingkah laku peserta didik dan latar belakangnya dapat disebabkan karena kurangnya usaha guru untuk dengan sengaja memahami peserta didik dan latar belakangnya. Karena pengelolaan pusat belajar harus disesuaikan dengan minat, perhatian, dan bakat para siswa, maka siswa yang memahami pelajaran secara cepat, rata-rata, dan lamban memerlukan pengelolaan secara khusus menurut kemampuannya. Semua hal di atas memberi petunjuk kepada guru bahwa dalam proses belajar mengajar diperlukan pemahaman awal tentang perbedaan siswa satu sama lain.

b.      Peserta didik

Peserta didik dalam kelas dapat dianggap sebagai seorang individu dalam suatu masyarakat kecil yaitu kelas dan sekolah. Mereka harus tahu hak-haknya sebagai bagian dari satu kesatuan masyarakat disamping mereka juga harus tahu akan kewajibannya dan keharusan menghormati hak-hak orang lain dan teman-teman sekelasnya.
Kekurangsadaran peserta didik dalam memenuhi tugas dan haknya sebagai anggota suatu kelas atau suatu sekolah dapat merupakan faktor utama penyebab hambatan pengelolaan kelas. Oleh sebab itu, diperlukan kesadaran yang tinggi dari peserta didik akan hak serta kewajibannya dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar.

c.       Keluarga

Tingkah laku peserta didik di dalam kelas merupakan pencerminan keadaan keluarganya. Sikap otoriter orang tua akan tercermin dari tingkah laku peserta didik yang agresif dan apatis. Problem klasik yang dihadapi guru memang banyak berasal dari lingkungan keluarga. Kebiasaan yang kurang baik di lingkungan keluarga seperti tidak tertib, tidak patuh pada disiplin, kebebasan yang berlebihan atau terlampau terkekang merupakan latar belakang yang menyebabkan peserta didik melanggar di kelas.


d.      Fasilitas

Fasilitas yang ada merupakan faktor penting upaya guru memaksimalkan programnya, fasilitas yang kurang lengkap akan menjadi kendala yang berarti bagi seorang guru dalam beraktivitas. Kendala tersebut ialah :
1)     Jumlah peserta didik di dalam kelas yang sangat banyak
2)     Besar atau kecilnya suatu ruangan kelas yang tidak sebanding dengan jumlah siswa
3)     Keterbatasan alat penunjang mata pelajaran.

Keberhasilan belajar dan mengajar bergantung pada keyakinan pendidik tentang faktor-faktor pendukung terjadinya pembelajaran yang efesien. Beberapa faktor mengajar yang perlu diperhatikan supaya proses belajar berlangsung baik antara lain:

a)      Kesempatan untuk belajar, kegiatan pembelajaran perlu menjamin pengalaman siswa untuk secara langsung mengamati dan mengalami   proses, produk, keterampilan, dan nilai yang diharapkan.
b)      Pengetahuan awal siswa, kegiatan belajar perlu mengaitkan dengan pengetahuan awal siswa, keterampilan dan nilai yang dimiliki sambil memperluas dan menunjukkan keterbukaan pada cara pandang dan cara tindakan sehari-hari.
c)      Refleksi, kegiatan mengajar perlu menyediakan pengalaman belajar bermakna yang mampu mendorong tindakan (aksi) dan renungan (refleksi) pada siswa.
d)     Motivasi, kegiatan mengajar harus perlu menyediakan pengalaman belajar yang memberi motivasi   dan kejelasan tujuan.
e)      Keragaman individu, kegiatan mengajar perlu menyediakan pengalaman belajar yang mempertimbangkan perbedaan individu.
f)       Kemandirian dan kerja sama, kegiatan mengajar perlu menyediakan pengalaman belajar yang mendorong siswa untuk belajar secara mendiri maupun melalui kerjasama.
g)      Suasana yang mendukung, sekolah dan kelas perlu diatur lebih aman dan lebih kondusif untuk menciptakan situasi supaya siswa belajar lebih efektif.
h)      Belajar untuk kebersamaan, kegiatan mengajar menyediakan pengalaman belajar yang mendorong siswa untuk memiliki simpati, empati, dan toleransi pada orang lain.
i)        Siswa sebagai pembangun gagasan, kegiatan mengajar menyediakan pengalaman belajar yang mengkomodasi pandangan bahwa pembangunan gagasan adalah siswa sedangkan guru hanya sebagai penyedia kondisi supaya perestiwa belajar berlangsung.
j)        Rasa ingin tahu, kreatifitas, dan ketuhanan, kegiatan mengajar  menyediakan pangalaman yang memupuk rasa ingin tahu, mendorong kreativitas dan selalu mengagumkan kebesaran Yang Maha Esa.
k)      Menyenangkan, kegiatan mengajar perlu menyediakan pengalaman belajar yang menyenangkan siswa.
l)        Interaksi dan Komunikasi, kegiatan mengajar perlu menyediakan pengalaman belajar yang meyakinkan siswa terlibat secara aktif secara mental, fisik, dan social.
m)    Belajar dan Cara Belajar, kegiatan mengajar  perlu menyediakan pengalaman belajar yang memuat keterampilan belajar sehinggasiswa terampil belajar bagaimana belajar (learn how to learn).

  1. Layanan Pendukung Instruksional Perguruan Tinggi
1)      Ruang kuliah dilengkapi LCD projector dan layarnya,  komputer, white board, wireless, sound system dan Air Conditioner (AC).
2)      Masjid  Berdaya tampung Minimal 500 orang jema’ah.
3)      Poliklinik; memberikan pelayanan medis awal kepada civitas akademika dan masyarakat  yang membutuhkan pelayanan kesehatan.
4)      Mobil Ambulan; memberikan pelayanan transportasi untuk civitas akademika dan keluarganya yang sakit, atau meninggal dunia.
5)      Internet; bagi dosen dan karyawan disediakan fasilitas internet di ruangan-ruangan kantor secara gratis.
6)      Wartel; fasilitas yang dikelola oleh Koperasi Mahasiswa
7)      Mess Diklat  untuk berbagai kepentingan seperti pelatihan,
8)      Guest House; menyediakan kamar bagi tamu civitas akademika dan masyarakat
9)      Mobil operasional; di fakultas dan universitas.
10)  Koperasi Karyawan dan Dosen; melayani jual beli barang-barang kebutuhan dan layanan simpan pinjam.
11)  Koperasi Mahasiswa; melakukan usaha minimarket, toko, photo copy, warung telekomunikasi.
12)  Kantin dan Cafe; menyediakan  berbagai makanan dan minuman bagi mahasiswa dan civitas akademika lainnya.
13)  Student Centre / Convention Centre; tempat untuk pelaksanaan berbagai kegiatan
14)  Perangkat  Laboratorium Lengkap
15)  Bank & ATM yang memudahkan transaksi keuangan dan perbankan.
16)  Perumahan Dosen dan Karyawan  memberikan jaminan pemilikan rumah bagi dosen karyawan yang membutuhkannya.

C.    KESIMPULAN DAN SARAN

1.      Kesimpulan
Dalam pembahasan diatas telah dipaparkan fungsi-fungsi layanan pendukung instruksional sebagai komponen pendidikan. Fungsi dan kegiatan diatas merupakan fungsi dan kegiatan yang ideal. Seberapa jauh kegiatan yang ideal tersebut dapat dilaksanakan oleh layanan tersebut tergantung pada tujuan program pengajaran, fasilitas, peralatan yang dimilki, staf dan personalia yang ada dalam pusat sumber belajar yang bersangkutan.
Namun demikian, dapat dipastikan bahwa fungsi-fungsi diatas akan selalu dijumpai dalam setiap layanan pembelajaran sebagai suatu sarana yang berusaha untuk memajukan efektivitas dan efesiensi kegiatan belajar mengajar. Yang berbeda hanyalah kegiatan-kegiatan nyata yang berhubungan dengan fungsi diatas, sesuai dengan adanya pembatasan-pembatasan yang terdapat pada masing-masing layanan yang dimanfaatkan.

2.      Saran
Suksesnya belajar dan berhasilnya suatu pendidikan sangat (dominan) ditentukan oleh komponen tenaga pendidik, dalam hal ini guru di sekolah. Meskipun  di  suatu  sekolah fasilitasnya memadai, bangunannya bertingkat; meskipun kurikulumnya lengkap, program pengajarannya hebat, manajemennya  ketat,  sistem  pembelajarannya  oke,  tapi  para  tenaga pengajarnya (guru) sebagai aplikator di lapangan tidak memiliki kemampuan (kualitas) dalam penyampaian materi, cakap menggunakan alat-alat tekhnologi yang  mendukung pembelajaran,  maka  tujuan  pendidikan  akan  sulit  dicapai sebagaimana mestinya.
Disini hendaknya setiap guru harus memahami fungsinya karena sangat besar pengaruhnya terhadap cara bertindak dan berbuat dalam menunaikan pekerjaan sehari-hari dikelas dan di masyarakat. Guru yang memahami kedudukan dan fungsinya sebagai pendidik professional, selalu terdorong untuk tumbuh dan berkembang sebagai perwujudan perasaan dan sikap tidak puas terhadap pendidikan. Persiapan yang harus diikuti, hendaknya sejalan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (Nawawi, 1989:121). Mantan Mendikbud, Fuad Hassan juga pernah mengingatkan, bahwa tanpa guru yang menguasai materinya mustahil suatu sistem pendidikan berikut kurikulum serta muatan kurikulernya dapat mencapai hasil sebagaimana yang diidealkan.


Daftar Pustaka



AECT. 1977. Materi Dasar Pendidikan Program Akta Mengajar V.

Mudhoffir.1990. Prinsip-prinsip Pengelolaan Sumber Belajar. Bandung: Remaja Karya

Tucker. 1979. The Organisation and Management of Educational Technology. Dalam http://projekku.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar